PT Nico Ngotot di Rp2.200, Rapat Harga Kelapa di Halut Buntu

Pertemuan unsur Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, perwakilan PT Nico, para pengepul kelapa dari wilayah Galela, serta jajaran Polres Halmahera Utara untuk mencari solusi. Foto: Risal Sadoki

Senjakota- PT Nico masih bertahan di harga Rp2.200 per butir kelapa. Pertemuan yang digelar Pemkab Halmahera Utara untuk mencari solusi kenaikan harga pun belum membuahkan hasil.

Rapat berlangsung di Ruang Meeting Fredy Djandua, Kantor Bupati Halmahera Utara, Kamis, 6 Agustus 2026 dipimpin Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Nyoter Konoe. Pertemuan itu dihadiri perwakilan PT Nico, pengepul kelapa, unsur Pemkab, serta Polres Halmahera Utara.

Dalam forum tersebut, PT Nico belum bersedia menaikkan harga beli kelapa. Perwakilan perusahaan, Rita, mengatakan usulan kenaikan masih akan dibahas di internal manajemen.

“Untuk harga saat ini memang belum bisa. Tapi semua masukan akan kami sampaikan ke manajemen,” ujarnya.

Harga Rp2.200 per butir itu berdampak langsung ke petani. Setelah dipotong biaya angkut, upah buruh, kelapa rusak (rijek), serta margin pengepul, petani hanya menerima sekitar Rp1.700 hingga Rp1.800 per butir.

Pengepul pun mengaku kesulitan menaikkan harga di tingkat petani. Mereka berharap PT Nico bisa membuka harga lebih tinggi.

“Kalau PT Nico bisa naik ke Rp2.500, kami juga bisa dorong harga ke petani sekitar Rp2.000,” kata salah satu pengepul.

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari aksi protes petani kelapa yang sebelumnya menyoroti anjloknya harga. Namun, Front Petani Halmahera Utara tidak sempat hadir dalam forum tersebut.

Hingga kini, belum ada titik temu antara perusahaan dan para pihak terkait. Upaya mencari solusi harga kelapa di Halmahera Utara pun masih menemui jalan buntu.

 

Penulis: Risal Sodoki |Editor: Ilham

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup