771 Warga Mayau Mengungsi, Sekda Ternate: Bantuan Difokuskan dan Didata Terpusat
Senjakota- Sebanyak 771 warga di Kelurahan Mayau, Kecamatan Pulau Batang Dua, terpaksa mengungsi pascagempa bumi yang mengguncang wilayah tersebut. Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate pun memfokuskan penanganan darurat dengan pendataan terpusat dan penguatan distribusi bantuan di lapangan.
Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, mengatakan pendataan pengungsi dilakukan secara menyeluruh guna memastikan bantuan tersalurkan tepat sasaran.
“Kami sejak pagi bersama tim melakukan pendataan secara menyeluruh, termasuk mengoordinasikan pengungsi agar terpusat di satu titik sehingga penyaluran bantuan dapat dilakukan lebih terarah,” ujar Rizal, Jumat, 3 April 2026.
Ia menjelaskan, dari total 771 pengungsi di Mayau tersebut terdiri dari 22 lansia, sekitar 300 laki-laki, 300 perempuan, 123 anak-anak, serta 26 balita yang tersebar di beberapa titik pengungsian.
Rizal bersama tim tiba di Batang Dua pada malam hari sekitar pukul 19.30 WIT dan langsung meninjau titik-titik pengungsian di Kelurahan Mayau, Lelewi, serta Perum Bersatu. Di lapangan, warga diketahui telah membangun tenda secara mandiri untuk berlindung sementara.
“Kami langsung turun ke lokasi pengungsian untuk memastikan kondisi warga sekaligus melihat kebutuhan mendesak di lapangan,” katanya.
Selain peninjauan, Pemkot juga melibatkan TNI, Polri, Angkatan Laut, serta pemuda gereja dalam proses pendataan dan penanganan pengungsi.
“Kami fokus pada pembangunan tenda pengungsian dan memastikan distribusi bantuan berjalan tepat sasaran melalui koordinasi dengan BPBD, TNI, dan Polri,” ujarnya.
Rizal bilang, kondisi di sejumlah wilayah lain seperti Kelurahan Bido dan Lelewi mulai berangsur normal. Namun, warga masih memilih berada di luar rumah pada malam hari sebagai langkah antisipasi terhadap gempa susulan.
“Kami melihat sebagian warga sudah kembali ke rumah, tetapi pada malam hari mereka masih bertahan di luar rumah karena gempa susulan masih dirasakan,” jelas Rizal.
Ia menambahkan, pendataan pengungsi saat ini baru mencakup wilayah Mayau dan Perum Bersatu, sementara data dari Bido dan Lelewi masih dalam proses validasi. Tim juga dijadwalkan bergerak ke Tifure untuk memastikan kondisi warga terdampak lainnya.
“Dalam waktu dekat kami akan menuju Tifure untuk memastikan kondisi di sana, sekaligus menyalurkan bantuan, khususnya untuk warga di Pantai Sagu,” katanya.
Selain dampak pengungsian, Pemkot Ternate juga mencatat sementara terdapat sekitar 226 unit rumah terdampak gempa, serta enam bangunan gereja mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga berat.
“Data kerusakan ini masih akan terus diperbarui seiring pendataan di lapangan yang masih berlangsung,” ujar Rizal.
Untuk memperkuat penanganan, Pemkot Ternate juga mengaktifkan sistem posko berlapis mulai dari posko induk di Ternate hingga posko lapangan di Batang Dua.
“Posko ini kami perkuat agar koordinasi antara posko induk dan posko lapangan bisa berjalan efektif,” tandasnya.








Tinggalkan Balasan