Kolaborasi Densus 88 dan GP Ansor, Peserta PKD Dibekali Pencegahan Ekstremisme

Densus 88 AT Polri Satgaswil Maluku Utara hadir sebagai narasumber di PKD III Ansor Halsel. Foto: Istimewa

Senjakota- Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Maluku Utara dari Densus 88 Antiteror Polri berkolaborasi dengan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Provinsi Maluku Utara Cabang Halmahera Selatan menggelar kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD-III), Sabtu 18 Juli 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 11.30 WIT di Aula Hotel Buana Lippo Bacan ini diikuti sekitar 20 peserta. Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara Densus 88 AT Polri dan GP Ansor yang selama ini telah terjalin.

Dalam kegiatan itu, Densus 88 AT Polri Satgaswil Maluku Utara hadir sebagai narasumber dengan membawakan materi sosialisasi kebangsaan bertajuk Bahaya Penyebaran Paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, Terorisme (IRET), serta ancaman Nihilistic Violent Extremism (NVE) dan pentingnya pengawasan anak dalam penggunaan media sosial.

Ketua tim pencegahan Satgaswil Maluku Utara Densus 88 AT Polri, Ipda Adhy Rahmansyah, menekankan pentingnya kolaborasi antara aparat keamanan dan organisasi kepemudaan dalam menangkal penyebaran paham ekstrem.

“Kerja sama antara Densus 88 dan GP Ansor menjadi kunci dalam mencegah berkembangnya paham intoleransi, radikalisme, hingga terorisme, termasuk ancaman baru seperti NVE,” ujar Adhy.

Sementara itu, Briptu Fazri Duwila selaku Banit Pencegahan Densus 88 Satgaswil Maluku Utara mengungkap adanya tren baru dalam aksi teror yang mulai menyasar anak-anak sebagai pelaku.

Menurut dia, kelompok rentan usia 10 hingga 18 tahun menjadi target karena mudah terpengaruh oleh propaganda yang tersebar melalui lingkungan keluarga, sosial, maupun media digital.

“Paparan radikalisme pada anak seringkali terjadi secara bertahap, melalui doktrin yang membingkai kekerasan sebagai bentuk perjuangan atau pengorbanan,” jelas Fazri.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dan lingkungan dalam mengawasi aktivitas anak, terutama dalam penggunaan media sosial, guna mencegah terpapar konten ekstrem.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu menjadi agen pencegahan di lingkungan masing-masing, baik di tempat kerja maupun di masyarakat.

“Peserta diharapkan bisa menjadi pelopor dalam menangkal paham intoleransi dan radikalisme, sekaligus menjadi tameng bagi generasi muda dari pengaruh kekerasan,” tutup Fazri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup