Aktivitas Warga di Lingkar Industri Obi Tetap Berjalan, Perempuan Desa Kembangkan Pertanian Hortikultura

Pendampingan Kelompok Wanita Tani dari Desa Kawasi dan Soligi oleh Harita Nickel: Foto: Istimewa

Senjakota- Di tengah kembali mencuatnya perdebatan mengenai industri nikel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara, aktivitas masyarakat di desa-desa sekitar kawasan industri tetap berlangsung seperti biasa.

Di Desa Soligi dan Kawasi, misalnya, puluhan perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) masih rutin mengelola kebun hortikultura. Dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan ini mulai menjadi sumber tambahan penghasilan bagi keluarga mereka.

Di lereng-lereng perbukitan desa, berbagai jenis tanaman seperti kangkung, cabai, kacang panjang, timun, hingga bayam tumbuh di atas bedeng-bedeng yang dikelola secara bersama.

Ketua KWT Soligi, Jahariya, mengatakan hasil pertanian mereka kini tidak hanya untuk konsumsi sendiri, tetapi juga mulai dipasarkan.

“Kami tanam sayur, cabai, kacang panjang. Sayur dikirim ke perusahaan dua kali seminggu,” ujar Jahariya.

Beberapa tahun lalu, sebagian besar perempuan di kedua desa tersebut belum mengenal budidaya hortikultura secara teratur. Aktivitas pertanian masih dilakukan secara tradisional dan bergantung pada pola kebun turun-temurun.

Perubahan mulai terjadi sejak adanya pendampingan melalui program Sekolah Ladang. Program ini membantu kelompok perempuan desa mempelajari teknik budidaya yang lebih sistematis, mulai dari penyemaian bibit, pengelolaan lahan, hingga pengendalian hama.

Community Development Supervisor Harita Nickel, Albertus Darukumara, menjelaskan bahwa sebagian besar anggota kelompok merupakan ibu rumah tangga yang ingin berkontribusi terhadap ekonomi keluarga.

“Karena banyak laki-laki bekerja di perusahaan atau melaut, ibu-ibu ingin ikut membantu ekonomi keluarga melalui pertanian,” kata Albertus.

Ia menambahkan, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga pada keberlanjutan praktik pertanian yang dijalankan masyarakat.

Sementara itu, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara sekaligus Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Maluku Utara, Syaiful Bahry, menilai keterlibatan perempuan dalam aktivitas produktif memiliki dampak sosial yang signifikan.

Menurut dia, partisipasi dalam kegiatan ekonomi dapat memperkuat rasa percaya diri, relasi sosial, serta posisi perempuan dalam keluarga dan masyarakat.

“Ketika perempuan mulai memiliki ruang untuk terlibat dalam aktivitas ekonomi produktif, dampaknya bukan hanya pada tambahan penghasilan, tetapi juga pada kemampuan mengambil peran dalam keluarga maupun lingkungan sosial,” ujar Syaiful.

Ia juga menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan agar masyarakat dapat mengembangkan kapasitas dan potensi ekonomi lokal secara mandiri.

Saat ini, kelompok perempuan di Soligi dan Kawasi mulai menghasilkan panen dengan kualitas yang lebih baik dan pasokan yang lebih stabil. Ketua KWT Kawasi, Thofiya, mengatakan hasil kebun mereka turut membantu kebutuhan pendidikan keluarga.

“Kami bersyukur dari hasil panen bisa bantu biaya sekolah cucu sampai lulus SMA di Bacan,” katanya.

Tokoh masyarakat Desa Soligi, Abu Jaya, menilai keberadaan kelompok wanita tani telah membawa perubahan di tingkat desa.

“Sekarang ibu-ibu sudah mulai punya kegiatan tetap dan belajar mengelola kebun secara kelompok,” ujarnya.

Di tengah berbagai diskusi mengenai industri nikel di Pulau Obi, aktivitas kelompok wanita tani di Soligi dan Kawasi menunjukkan bahwa kehidupan sosial masyarakat desa tetap berjalan dan berkembang, termasuk melalui penguatan peran perempuan dalam sektor ekonomi lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup