Menjaga Nyawa di Laut: Jamaludin Bahry dan Upaya Menumbuhkan Budaya Keselamatan Berlayar
Senjakota- Laut bukan sekadar jalur penghubung antarwilayah, tetapi juga ruang hidup bagi jutaan orang di Indonesia. Di Provinsi Maluku Utara, denyut aktivitas masyarakat sangat bergantung pada transportasi laut. Namun di balik geliat itu, keselamatan pelayaran kerap menjadi tantangan yang tak boleh diabaikan.
Kesadaran itulah yang menuntun Jamaludin Bahry untuk menggagas Standar Keselamatan Berlayar (SATKES) dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan VIII Provinsi Maluku Utara Tahun 2025.
Karena bagi Jamaludin, keselamatan pelayaran bukan hanya sekadar kewajiban administratif, melainkan budaya yang harus tumbuh dalam setiap aktivitas di laut.
“Keselamatan pelayaran bukan hanya tanggung jawab operator kapal. Ini adalah kepentingan publik,” ujarnya.
Standar Keselamatan Berlayar, atau SATKES, mencakup banyak hal yang kerap luput dari perhatian. Mulai dari kondisi kapal yang layak beroperasi, ketersediaan alat keselamatan, kompetensi awak kapal, hingga kepatuhan terhadap prosedur darurat. Dalam praktiknya, tantangan terbesar justru datang dari rendahnya kesadaran dan disiplin terhadap standar tersebut.
Bagi Jamaludin, membangun budaya keselamatan berarti menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama, bukan sekadar formalitas. Ia menekankan perlunya upaya berkelanjutan melalui edukasi, sosialisasi, dan pengawasan yang konsisten.
Pemerintah, menurutnya, memegang peran strategis dalam memastikan seluruh standar keselamatan diterapkan secara menyeluruh.
Namun tanggung jawab itu tidak berhenti di pemerintah. Kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah pusat dan daerah, aparat keselamatan, operator kapal, hingga masyarakat pengguna jasa transportasi laut harus berjalan seiring.
“Tanpa kerja bersama, standar keselamatan hanya akan menjadi aturan di atas kertas,” tutur Jamaludin.
Dalam konteks ini, penumpang juga memiliki peran penting. Hak atas keselamatan selama perjalanan laut harus dibarengi dengan kesadaran untuk mematuhi aturan, memperhatikan prosedur darurat, dan berani melaporkan potensi risiko.
“Keselamatan adalah tanggung jawab bersama,” kata Jamaludin.
Melalui SATKES ini, Jamaludin berharap tumbuh kesadaran kolektif bahwa laut bukan ruang tanpa aturan. Setiap perjalanan membawa tanggung jawab besar untuk menjaga nyawa manusia.
Ketika budaya keselamatan berlayar benar-benar mengakar, transportasi laut tidak hanya menjadi sarana mobilitas, tetapi juga ruang yang aman dan terpercaya bagi masyarakat.
Di wilayah kepulauan seperti Maluku Utara, menjaga keselamatan di laut berarti menjaga kehidupan itu sendiri. Dan dari ruang-ruang sosialisasi seperti inilah, perubahan itu perlahan dimulai.




Tinggalkan Balasan