Bunyi Tatabuang dan Pesan Toleransi dari Tradisi Kesultanan Ternate
Senjakota- Bunyi tatabuang atau Cikamumu terdengar pelan memecah suasana. Dari arah kedaton, iring-iringan Sultan bergerak menuju masjid, membawa payung kuning kebesaran, bendera kesultanan, dan pusaka-pusaka tua yang hanya dikeluarkan pada momen-momen istimewa.
Tradisi ini telah berlangsung ratusan tahun menjadi bagian dari cara Kesultanan Ternate menjaga syiar Islam sekaligus merawat harmoni masyarakatnya.
Bunyi alat musik tradisional itu berirama, berulang, dan seolah mengirim pesan ke seluruh penjuru kota bahwa malam istimewa sedang berlangsung. Dentumannya menjadi penanda dimulainya sebuah prosesi adat yang dikenal sebagai Kabasarang Uci Kesultanan Ternate.
Bunyi tersebut berasal dari tatabuang, seperangkat alat musik pukul yang selalu mengiringi prosesi kebesaran kesultanan. Dalam tradisi ini, Sultan bersama perangkat adat berjejer rapi berjalan menuju masjid dalam sebuah iring-iringan sakral, membawa berbagai pusaka dan simbol kabasarang kesultanan.
Jo Hukum Soa Sio Kesultanan Ternate, Gunawan Radjim, menjelaskan bahwa tradisi kabasarang ini merupakan momen ketika pusaka-pusaka kesultanan dikeluarkan untuk diperlihatkan kepada masyarakat.
“Dalam prosesi kebesaran itu semua tanda kebesaran kesultanan dikeluarkan. Ada payung kebesaran berwarna kuning, bendera kesultanan, serta pusaka-pusaka lain yang dibawa oleh 12 anak laki-laki atau Ngungare Ici yang dipimpin Murinyo Kie saat membawa pusaka-pusaka Kabasaran Kolano dalam iring-iringan Sultan menuju masjid,” kata Gunawan.

Prosesi ini tidak dilakukan setiap hari. Dalam setahun, ritual tersebut hanya digelar pada empat momen penting, yakni malam ke-16 Ramadan atau malam qunut, malam ke-27 Ramadan yang diyakini sebagai malam Lailatul Qadar, serta pada Hari Raya Idulfitri dan Iduladha.
Pada malam-malam itu, Sultan bersama perangkat adat dan pengiring berjalan menuju masjid untuk melaksanakan salat. Di sepanjang perjalanan, dentuman tatabuang terus mengiringi langkah mereka.
Menurut Gunawan, tatabuang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Islam di Ternate.
Alat musik ini dipercaya merupakan seperangkat gamelan yang dihadiahkan oleh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik kepada Pangeran Bolawa, yang kelak dikenal sebagai Sultan Zainal Abidin, Sultan Ternate pertama yang memeluk Islam.
Perangkat gamelan tersebut diberikan setelah Zainal Abidin menimba ilmu agama di pesantren Sunan Gresik di Jawa. Saat kembali ke Ternate, alat musik itu dibawa sebagai sarana syiar Islam.
“Tatabuang itu tidak dimainkan setiap hari. Ia hanya dibunyikan pada waktu-waktu tertentu, seperti malam pertama Ramadan, malam qunut, malam Lailatul Qadar, serta pada Idulfitri dan Iduladha,” ujar Gunawan.

Pada masa lalu, ketika sistem penetapan awal Ramadan belum seperti sekarang, masyarakat Ternate mengandalkan tanda-tanda alam untuk menentukan awal bulan suci. Setelah ada kepastian, laporan disampaikan kepada kadi dan diteruskan kepada Sultan.
Sultan kemudian memerintahkan agar tatabuang dibunyikan.
“Begitu orang mendengar bunyi tatabuang, mereka langsung tahu bahwa malam itu adalah malam pertama Ramadan,” jelas Gunawan.
Bagi masyarakat Ternate, bunyi tatabuang bukan sekadar musik pengiring prosesi. Dentumannya juga dimaknai sebagai bagian dari syiar keagamaan.
Para pemain tatabuang biasanya melantunkan selawat kepada Nabi Muhammad SAW saat memainkan alat musik tersebut. Karena itu, bunyi tatabuang sering dimaknai sebagai salam yang disampaikan kepada masyarakat.
“Orang tua-tua dulu mengibaratkan bunyi tatabuang itu seperti salam yang disampaikan kepada masyarakat bahwa malam ini adalah malam qunut, malam Lailatul Qadar, atau hari besar seperti Idulfitri dan Iduladha,” ujarnya.
Di balik prosesi sakral itu, terdapat pula nilai yang telah lama hidup dalam tradisi Kesultanan Ternate: toleransi.
Gunawan menjelaskan, sejak dahulu kesultanan tidak membedakan rakyat berdasarkan agama atau suku. Semua masyarakat yang berada di bawah kesultanan disebut sebagai bala, atau rakyat kesultanan.
Dalam tradisi Ternate dikenal dua istilah, yakni kusu-kusu dan kano-kano. Kusu-kusu merujuk pada rakyat yang beragama Islam, sedangkan kano-kano adalah masyarakat non-Muslim.
“Keduanya hidup berdampingan sebagai bala kesultanan. Orang Ternate mengibaratkan seperti alang-alang dan rumput yang tumbuh bersama di satu tempat,” kata Gunawan.
Nilai kebersamaan itu terlihat jelas dalam prosesi kebesaran. Dalam iring-iringan Sultan, terdapat pula kelompok pengawal yang mengenakan pakaian serba hitam. Mereka berasal dari masyarakat non-Muslim.

Para pengawal tersebut berjalan di barisan depan dalam prosesi adat. Namun ketika umat Islam melaksanakan salat di dalam masjid, mereka tetap berada di luar untuk menjaga keamanan.
Tradisi ini telah berlangsung selama ratusan tahun dan terus dipertahankan hingga kini.
Selain itu, masyarakat non-Muslim juga memiliki peran penting dalam tradisi Ela-Ela, yakni tradisi menyalakan obor atau pelita pada malam tertentu di bulan Ramadan.
Menurut Gunawan, pelita yang digunakan dalam tradisi Ela-Ela biasanya menggunakan bahan bakar damar. Menariknya, penyediaan damar tersebut menjadi tanggung jawab masyarakat non-Muslim.
“Mereka justru tidak rela kalau tugas itu diambil orang lain. Mereka bilang itu memang tugas mereka sejak dulu,” ujar Gunawan.
Peran tersebut diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat di wilayah tertentu di Ternate.
Bagi masyarakat Ternate, tradisi ini bukan sekadar ritual adat. Ia menjadi bukti bahwa nilai kebersamaan, toleransi, dan penghormatan terhadap tradisi telah hidup dalam masyarakat sejak ratusan tahun lalu, jauh sebelum istilah toleransi ramai dibicarakan seperti sekarang.








Tinggalkan Balasan