Memahami Politik di Era Digital
Oleh: Yudhi Pamungkas
Senjakota- Mengikuti perkembangan zaman yang begitu cepat dengan berbagai perubahan, dunia kini dikenal sebagai dunia digital. Sepanjang waktu, manusia kerap terputus dari realitas. Teknologi tidak hanya mempermudah akses informasi, tetapi juga perlahan mengubah cara manusia berpikir dan telah mengubah berbagai aspek kehidupan manusia.
Dengan hal ini, seseorang selalu membangun identitas melalui media sosial dan sering kali mencerminkan citra tertentu di berbagai aplikasi, misalnya TikTok dan bermacam-macam aplikasi internet lainnya. Kehadiran media sosial seperti Facebook, Twitter, dan WhatsApp telah mengubah cara masyarakat mengenal satu dengan yang lain melalui internet hingga menjelma sebagai panggung pertunjukan terbesar di abad ini.
Ketergantungan seseorang terhadap teknologi semakin tinggi, bahkan melahirkan budaya komunikasi jaringan yang sering melakukan aksi antarkoneksi dan kolaborasi. Dengan demikian, media sosial juga memainkan peran penting dalam meningkatkan partisipasi politik, menyediakan ruang suara bagi masyarakat untuk ekspresi politik. Hal ini juga berlaku bagi masyarakat yang memiliki tingkat ketergantungan tinggi terhadap media sosial.
Ketika seseorang menampilkan diri di media sosial, hal ini dianggap sebagai awal dari seluruh proses untuk berinovasi. Media sosial bukan lagi ruang privat; ia telah menjelma menjadi ruang publik masyarakat digital. Setiap unggahan, komentar, atau story adalah bagian dari koreografi yang disusun cermat untuk meningkatkan citra yang baik demi mengejar validasi sosial.
Sayangnya, di era digital yang selalu terkoneksi dengan jaringan, politik tidak lagi dimainkan di panggung orasi atau media massa tradisional. Medan pertempuran opini publik pun telah bergeser ke ranah media sosial, memunculkan fenomena politik sandiwara digital. Fenomena ini merupakan praktik manipulasi publik dan perilaku politik masyarakat melalui platform-platform digital.
Hal inilah yang dipaparkan oleh Erving Goffman, salah satu tokoh sosiolog, melalui Teori Dramaturgi: Panggung Depan (front stage) adalah bagian dari sandiwara yang secara umum berfungsi dengan cara-cara politik agar dipuji saat berada di panggung. Sementara itu, panggung belakang (back stage) dipandang sebagai ruang yang selalu ditekan oleh panggung depan. Dari teori tersebut, para aktor sering melakukan sandiwara terhadap publik sehingga mereka mengekspresikan diri dalam interaksi dengan orang lain.
Hal ini menandakan bahwa demokrasi bukanlah contoh yang sehat. Demokrasi telah dibajak oleh segelintir elite yang memiliki modal besar, jaringan politik yang luas, dan kepemilikan sumber daya yang strategis. Dengan demikian, mereka memanfaatkan media sosial sebagai panggung drama yang selalu menampilkan citra baik di media.
Media sosial memang sangat efektif ketika semua orang terlibat dalam diskusi politik. Namun, media sosial juga menuntut kita untuk tetap kritis dan bijak dalam penggunaannya agar tidak terjebak dalam informasi yang manipulatif dan tidak selalu mencerminkan realitas. Di balik itu semua, kita melihat sandiwara yang kerap dimainkan para aktor politik, bukan lagi untuk memperluas keadilan sosial, melainkan untuk mengokohkan kekuasaan dan menumpuk kekayaan.
Tulisan ini berusaha memberikan gambaran tentang pengaruh digitalisasi terhadap komunikasi dan media massa yang memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam proses pemaknaan pesan serta video-video pendek yang beredar di media sosial. Oleh karena itu, masyarakat harus cerdik dalam menggunakan media sosial agar tidak terjebak dalam informasi yang hanya menampilkan citra baik di ruang digital.
Hal inilah yang menyulitkan masyarakat untuk membuat keputusan yang rasional dan berdasarkan informasi yang valid. Akibatnya, polarisasi politik di media sosial semakin tajam, sementara proses demokrasi terancam karena aktor politik tidak lagi mencerminkan kehendak murni rakyat, melainkan menjadi bagian dari manipulasi yang tersembunyi.
_____
*Penulis Merupakan Mahasiswa Sosiologi, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU)




Tinggalkan Balasan