Memburu 18 Pemain Terbaik, PSSI Ternate Mulai Seleksi Demi Mimpi Juara Porprov

Tim pelatih dan para pemain muda yang mengikuti seleksi Porprov. Foto: Istimewa

Senjakota- Sore itu, rumput Lapangan Gambesi di Ternate Selatan menjadi saksi bisu. Satu per satu pemain muda berdatangan, mengenakan sepatu bola terbaik yang mereka punya.

Wajah-wajah penuh harap terlihat jelas mereka datang dengan satu tujuan: lolos seleksi dan membela Kota Ternate.

Jumat, 27 Maret 2026, PSSI Kota Ternate resmi memulai proses penjaringan pemain untuk menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Maluku Utara ke-V di Halmahera Utara. Lapangan sederhana itu pun berubah menjadi panggung pembuktian bagi talenta-talenta muda.

Di pinggir lapangan, tim pelatih berdiri mengamati. Setiap sentuhan bola, setiap sprint, hingga cara pemain membaca permainan tak luput dari perhatian. Seleksi ini bukan sekadar uji kemampuan, tapi juga soal mental dan kesiapan bertarung.

Tim pelatih PSSI Kota Ternate. Foto: Istimewa

Sekretaris PSSI Kota Ternate, Kobe Rusdi, menyebut proses ini sebagai langkah awal membangun tim yang solid.

“Seleksi ini untuk memilih pemain yang nantinya memperkuat tim sepak bola Kota Ternate di Porprov 2026,” ujarnya.

Para peserta seleksi berasal dari kelompok usia kelahiran 2004 hingga 2006. Selama tiga hari, dari 27 hingga 29 Maret, mereka akan bersaing menunjukkan kemampuan terbaik.

Bagi Tim pelatih, memilih pemain bukan hanya soal teknik. Fisik yang prima dan pemahaman strategi juga menjadi penilaian penting.

“Nantinya pelatih akan memilih pemain sesuai kebutuhan tim untuk Porprov ke-V,” kata Kobe.

Di balik proses seleksi ini, tersimpan target besar. PSSI Kota Ternate tak ingin sekadar hadir sebagai peserta. Mereka ingin lebih menjadi juara.

“Target kami jelas, ingin meraih juara,” tegasnya.

Dari puluhan pemain yang datang membawa mimpi, hanya 18 nama yang akan bertahan. Mereka yang terpilih nantinya akan memikul harapan satu kota, mengenakan jersey kebanggaan, dan bertarung di Porprov 2026.

Sisanya mungkin harus pulang dengan kecewa. Tapi sore itu di Gambesi, semua masih punya peluang yang sama untuk bermimpi, dan mungkin, mewujudkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup