Harga Kelapa Anjlok, Petani Halut Blokade Jalan Trans Galela–Tobelo
Senjakota- Harga buah kelapa yang terus merosot memicu aksi protes petani di Kabupaten Halmahera Utara. Ratusan warga yang tergabung dalam Front Petani Kelapa Halmahera Utara memalang Jalan Trans Galela–Tobelo, tepatnya di Desa Pune, Kecamatan Galela, Senin, 3 Agustus 2026.
Aksi pemalangan dilakukan untuk menghadang sejumlah truk milik PT Nico yang mengangkut buah kelapa dari wilayah Galela. Massa menilai aktivitas distribusi tetap berjalan di tengah anjloknya harga, sementara petani terus merugi.
Koordinator lapangan aksi, Ramji, menegaskan pemalangan jalan akan terus dilakukan hingga tuntutan petani dipenuhi.
“Kami akan terus memalang jalan sampai tuntutan kami diakomodasi,” ujar Ramji.
Para petani mendesak Pemerintah Kabupaten dan DPRD Halmahera Utara segera menetapkan harga buah kelapa sebesar Rp3.000 per butir. Mereka menilai pemerintah dan legislatif tidak boleh berdiam diri melihat kondisi petani yang semakin terpuruk.
Selain itu, massa juga menyoroti dugaan keterlibatan sejumlah anggota DPRD Halmahera Utara dalam bisnis perdagangan kelapa. Mereka menilai hal tersebut berpotensi menimbulkan konflik kepentingan dan menggerus kepercayaan publik.
“Keterlibatan mereka dalam bisnis buah kelapa justru membuat kami tidak lagi percaya,” kata Ramji.
Tak hanya soal harga, Front Petani Kelapa Halmahera Utara juga mendesak PT Nico bersama pemerintah daerah segera memperbaiki jalan tani di sejumlah desa di wilayah Galela. Jalan tersebut disebut mengalami kerusakan akibat aktivitas kendaraan perusahaan yang keluar masuk mengangkut hasil panen.
Massa juga meminta agar rantai relasi bisnis yang diduga melibatkan pihak-pihak tertentu diputus, sehingga petani dapat memperoleh akses pasar yang lebih adil.
Aksi ini merupakan lanjutan dari gelombang protes petani sejak diberlakukannya Peraturan Daerah tentang hilirisasi kelapa. Para petani menilai kebijakan tersebut justru diikuti penurunan harga secara bertahap.
Berdasarkan data di lapangan, harga buah kelapa tercatat telah turun sekitar lima kali sejak 2025. Saat ini, harga berada di kisaran Rp1.700 per butir, dari sebelumnya Rp2.500 hingga Rp2.800 per butir.
Hingga berita ini ditulis, aksi pemalangan jalan masih berlangsung. Aparat TNI-Polri tampak berjaga di lokasi untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan.
Penulis: Risal Sadoki | Editor: Ilham






Tinggalkan Balasan