Deforestasi Tubuh Ibu Pertiwi; Barat Menebang, Timur Menambang
Oleh: Siti Nurhayati. A
Senjakota- Melihat peta Nusantara hari ini bukan lagi melihat hamparan zamrud, melainkan menyaksikan tubuh Ibu Pertiwi yang sedang dicabik-cabik. Dari ujung Sumatra sampai Papua, kita tidak sedang membangun peradaban, melainkan sedang melakukan amputasi sistematis terhadap organ-organ vital bangsa ini demi angka pertumbuhan yang nirmoral.
Dari Sawit Sumatra ke Food Estate Papua
Hamparan gambut di Sumatra hingga rimba raya di Papua mencerminkan Indonesia hari ini sebagai sebuah paradoks hijau yang mematikan. Kita sedang menyaksikan sebuah tragedi ekologi yang terencana, menggunakan berbagai judul besar seperti hilirisasi dan ketahanan pangan. Mereka yang duduk di singgasana sebenarnya sedang menyusun sebuah simfoni kehancuran—sebuah sketsa tentang bagaimana Barat menebang dan Timur menambang.
Bencana yang terjadi di Sumatra adalah peringatan keras bagi kita semua, namun tampaknya para petinggi menutup mata dan telinga. Pulau yang dulunya hijau pekat kini berubah menjadi pulau monokultur. Deforestasi di Sumatra adalah luka lama yang baunya kian menyengat; hutan tropisnya telah dikuliti habis, digantikan oleh barisan sawit dan tanaman industri yang membosankan.
Dalam kurun waktu ±35 tahun, Sumatra telah kehilangan ±70% hutannya. Dampak yang terpampang nyata—mulai dari bencana alam hingga kepunahan satwa ikonik—adalah bukti keserakahan. Namun, apakah mereka sadar? Tentunya tidak. Buktinya, mereka justru membuat luka baru melalui pembebasan lahan di tanah Papua.
Masyarakat Malind di Papua Selatan menjadi saksi runtuhnya benteng terakhir. Atas nama kedaulatan pangan, ratusan ribu hektare hutan dikonversi menjadi sawah dan tebu. Namun, kedaulatan siapa yang diperjuangkan jika perempuan Papua harus kehilangan dusun sagunya? Ini adalah nestapa perempuan Malind saat hutan yang mereka sebut “Ibu” diratakan. Mereka kehilangan tanah dan sumber kehidupan. Ibu Bumi yang diperkosa bukan lagi sekadar metafora, melainkan kenyataan pahit di bawah deru ekskavator proyek strategis nasional.
Sulawesi Sampai Maluku Utara: Hilirisasi Berdarah
Jika alam adalah tubuh Ibu Pertiwi, maka wilayah Timur adalah organ vital yang kini dipaksa bekerja hingga hampir mati. Dari Morowali, Pomalaa, hingga Halmahera–Maluku Utara, lanskap alam nyaris tak lagi dikenali. Pegunungan yang dulunya menjadi penyangga hidrologis kini diratakan, menyisakan tanah merah yang berdebu saat kemarau dan berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan.
Perjalanan kehancuran ini bermula dari ambisi energi bersih dunia. Kita menemukan hilirisasi yang berdarah di Timur Indonesia. Demi baterai kendaraan listrik yang diklaim ramah lingkungan di kota-kota besar, bukit-bukit di Morowali hingga Halmahera dikupas hingga telanjang.
Ini adalah bencana yang diproduksi. Sedimentasi nikel telah mengubah pesisir menjadi wilayah mati, mengubah gunung hijau menjadi gurun tanah merah, memutus nadi antara nelayan dan lautnya, serta petani dengan lahan kebunnya. Di sini, nikel ditambang dengan energi batu bara yang kotor, menciptakan lelucon tragis, merusak iklim lokal demi menyelamatkan iklim global. Hilirisasi berdarah ini menjadikan penduduk pribumi sebagai tumbal alam, dipaksa keluar dari rumah mereka sendiri.
Rusaknya Rahim Ibu Pertiwi
Ini bukan lagi soal berapa jumlah pohon yang hilang atau berapa luas lahan yang tergusur, melainkan tentang masa depan yang dirampas dari sumbernya. Dari hamparan tanah Sumatra hingga rimba Papua, tubuh Ibu Pertiwi tidak sedang dijaga dan dipelihara, melainkan dibedah, dikuras, dan diperkosa demi nafsu akumulasi modal yang tak pernah kenyang.
Ditambah lagi dengan pembukaan ruas jalan di wilayah Halmahera–Maluku Utara, tepatnya jalur Trans Kie Raha Sofifi–Halmahera Tengah–Halmahera Timur, dengan misi konektivitas antarwilayah, percepatan pertumbuhan ekonomi, serta kemudahan akses pelayanan dasar.
Namun, jika dilihat dari sisi lain, misi Trans Kie Raha yang digadang-gadang sebagai urat nadi ekonomi warga justru lebih mirip nadi buatan yang memompa kekayaan alam Halmahera keluar menuju pasar global. Jalan ini bukan dibangun untuk memudahkan langkah petani menuju pasar, melainkan untuk melancarkan laju roda raksasa korporasi yang menggilas jantung hutan.
Pembukaan ruas jalan Trans Kie Raha harus dilihat secara jujur: sebenarnya, untuk siapa jalan ini dibangun? Rute jalan ini justru membelah kawasan hutan primer yang bersinggungan langsung dengan konsesi tambang nikel raksasa. Selain itu, hutan yang tadinya menjadi pelindung, ketika dibuka, akan mudah dialihfungsikan menjadi kawasan industri atau perkebunan skala besar setelah akses jalan tersedia.
Misi pembangunan jalan ini juga dapat dibaca sebagai upaya penjinakan rimba—menghancurkan isolasi alami yang selama ini melindungi masyarakat adat seperti O’Hongana Manyawa. Dengan terbukanya jalan, ruang hidup mereka tak lagi menjadi wilayah adat yang berdaulat, melainkan area yang mudah dipetakan, dikontrol, bahkan dipindahkan demi kepentingan investasi.
Singkatnya, kita tidak sekadar menebang pohon untuk membuka ruas jalan demi kesejahteraan, tetapi sedang memutus siklus kehidupan dari sumbernya yang paling asli. Substansinya, hilirisasi hijau hanyalah eufemisme dari penghancuran total, sementara pembangunan infrastruktur yang keliru hanya akan melahirkan petaka.
Belajar Dari Chico Mendes: Perjuangan Untuk Kemanusiaan
Kita perlu mengingat martir hutan Amazon, Chico Mendes. Ia pernah berkata, “Awalnya aku berpikir aku sedang berjuang untuk menyelamatkan pohon. Sekarang aku menyadari bahwa aku sedang berjuang untuk kemanusiaan.” Apa yang terjadi di Sumatra, Halmahera, Sulawesi, dan Papua hari ini bukan hanya soal pohon yang tumbang atau tanah yang dikeruk, melainkan soal kemanusiaan kita yang sedang dipertaruhkan. Kita dipaksa tunduk pada narasi “kepentingan nasional” yang sejatinya hanya melayani kepentingan segelintir oligarki.
Sebelum Rahim Ibu Pertiwi Mati
Ibu Pertiwi sedang menjerit. Kita tidak bisa memakan nikel, dan kita tidak bisa meminum aspal. Pembangunan sejati seharusnya menyembuhkan, bukan merampas rahim kehidupan. Jika kita terus membiarkan tubuh ini dikuliti hingga ke tulang, kita tidak akan melahirkan kesejahteraan atau mewariskan kemakmuran. Yang tersisa hanyalah bangkai ekologis di atas hamparan tanah mati bagi anak cucu kita.
Sudah saatnya kita berhenti menjadi penonton. Sembuhkan luka Ibu Pertiwi, hentikan amputasi ekologis ini sekarang juga. Sebab, ketika pohon terakhir tumbang dan mata air terakhir hanya mengalirkan racun, barulah kita sadar bahwa uang tidak bisa dihirup untuk mempertahankan hidup.
____
*Penulis merupakan Ketua Kopri PKC PMII Maluku Utara


Tinggalkan Balasan