Saat Hujan Datang ke Pulau Obi, Pengendalian Limpasan Jadi Fokus Tambang Nikel
Senjakota- Tingginya curah hujan di Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara menjadikan pengelolaan limpasan air sebagai isu krusial dalam aktivitas pertambangan.
Dengan curah hujan yang mencapai sekitar 4.600 mm per tahun, potensi aliran air membawa sedimen ke wilayah perairan menjadi tantangan yang harus diantisipasi secara serius.
Di kawasan operasional Harita Nickel, sedikitnya 52 kolam penampung sedimen telah dibangun untuk menahan aliran air sebelum dilepas kembali ke lingkungan. Salah satu kolam terbesar, Tuguraci 2, memiliki luas sekitar 43 hektare dengan kapasitas mencapai 924.000 meter kubik.
Berdasarkan hasil penelusuran Tim Observasi Perkumpulan Telapak, air limpasan dari area tambang tampak mengalir ke kolam penampungan dengan warna kecokelatan sebelum melalui proses pengolahan lanjutan. Sedimen yang mengendap di dasar kolam juga dikeruk secara berkala untuk dimanfaatkan kembali dalam kegiatan reklamasi lahan bekas tambang.
“Kolam ini sangat efektif menangkap aliran air di area perusahaan,” ujar Dickson Aritonang dari Tim Observasi Perkumpulan Telapak.
Selain itu, air limpasan diolah melalui instalasi pengolahan air limbah menggunakan teknologi koagulan dan flokulan guna mengurangi partikel tersuspensi sebelum dilepas ke lingkungan. Lumpur hasil pengolahan turut dimanfaatkan sebagai media tanam dalam kegiatan reklamasi.
Sejumlah peneliti lingkungan menilai tata kelola air menjadi indikator penting dalam praktik pertambangan di wilayah tropis yang memiliki bentang alam sensitif seperti Pulau Obi.
Dalam kerangka planetary boundaries yang diperkenalkan ilmuwan sistem bumi Will Steffen bersama tim Stockholm Resilience Centre, kualitas air dan stabilitas ekosistem perairan merupakan bagian penting dalam menjaga aktivitas manusia tetap berada dalam batas aman lingkungan.
Dickson menambahkan, penguatan area sekitar kolam sedimentasi masih diperlukan melalui pendekatan vegetatif, seperti penanaman pohon berakar kuat untuk memperkuat struktur tanah sekaligus berfungsi sebagai filter alami.
Selain pembangunan kolam sedimentasi, pengelola kawasan juga menerapkan zona penyangga di sekitar badan air serta teknologi aerasi untuk menjaga kadar oksigen dan sirkulasi air.
Pendekatan berbasis vegetasi ini menjadi bagian dari nature-based solutions yang semakin banyak diterapkan dalam pengelolaan lingkungan modern.
Peneliti Institut Teknologi Bandung, Sonny Abfertiawan, menilai pengelolaan lingkungan di wilayah tropis basah membutuhkan pendekatan yang adaptif terhadap kondisi lapangan.
“Harita Nickel adalah salah satu perusahaan yang telah menerapkan prinsip good mining practice dengan serius, meski dalam pelaksanaannya tetap menghadapi tantangan karena kondisi alam yang dinamis,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga sumber air di Pulau Obi, seperti Sungai Akelamo dan Danau Karo, yang memiliki nilai strategis bagi masyarakat dan ekosistem sekitar.
Menurut Sonny, tingginya intensitas hujan serta perubahan cuaca ekstrem menuntut sistem pengendalian limpasan dirancang lebih tangguh agar tetap memenuhi baku mutu lingkungan.
Di tengah dinamika alam wilayah tropis, pengendalian limpasan air di kawasan tambang menjadi proses berkelanjutan yang harus terus beradaptasi.
Upaya menjaga kualitas lingkungan, terutama di kawasan pesisir yang sensitif, menjadi kunci dalam memastikan aktivitas pertambangan tetap berjalan selaras dengan keberlanjutan ekosistem.


Tinggalkan Balasan