Perjalanan Sunyi Haji Bur: Kepulangan yang Dipeluk Tanah Ternate

Keranda jenazah Alm. Hi. Burhan Abdurahman saat disemayamkan sesaat di halaman kantor Wali Kota Ternate. Foto: Ilham Senja

SenjakotaIa tiba tanpa suara. Tak lagi menyapa, tak lagi melambaikan tangan seperti dulu saat berdiri di hadapan warganya. Hanya sebuah peti yang dibalut keheningan, membawa pulang kisah panjang seorang pemimpin.

Selasa pagi, 12 Mei 2026 di Bandara Sultan Babullah tampak cerah duka menggantung. Saat pintu pesawat Lion Air JT 896 terbuka, satu per satu penumpang turun. Hingga akhirnya, giliran itu datang, peti jenazah almarhum H. Burhan Abdurahman diturunkan perlahan.

Di momen itu, waktu seakan melambat.

Tak ada pidato. Tak ada sorak. Hanya tatapan yang mengikuti setiap gerakan peti, dari tangan ke tangan, dari pesawat ke ambulans. Di dalamnya, terbaring sosok yang dulu begitu hidup dalam ingatan banyak orang: Haji Bur.

Ia tak lagi berjalan di jalanan Ternate. Tapi hari itu, ia kembali melintasinya.

Iring-iringan kendaraan bergerak perlahan meninggalkan bandara. Jalan-jalan yang dulu mungkin sering ia lalui kini menjadi saksi kepulangannya, mulai dari Akehuda-Kalumpang. Warga berdiri di tepi jalan, sebagian menunduk, sebagian menatap lama. Seolah ingin memastikan benarkah ini perpisahan?

Di dalam ambulans, tak ada kata. Hanya perjalanan.

Setibanya di rumah duka di Kelurahan Moya, peti itu kembali diangkat. Disambut lantunan doa yang mengalun pelan. Di sekelilingnya, keluarga dan kerabat berkumpul, mendekat, seakan ingin menutup jarak yang selama ini terpisah oleh waktu dan tempat.

Doa-doa dipanjatkan. Nama itu disebut berulang kali. Haji Bur.

Dari rumah duka, perjalanan berlanjut ke Balai Kota. Tempat di mana dulu ia pernah berdiri sebagai pemimpin. Kini, ia kembali bukan untuk memimpin, melainkan untuk dilepas.

Peti jenazah disemayamkan sejenak. Para pegawai berdiri rapi, sebagian menahan air mata. Di hadapan mereka, bukan lagi seorang wali kota. Tapi seorang manusia, yang telah menuntaskan bagiannya.

Dan perjalanan itu belum usai.

Menuju TPU di Kampung Makassar Barat, langkah terakhir itu ditapaki. Tanah telah disiapkan. Liang lahat terbuka, menunggu dengan diam.

Saat peti diturunkan, semua kembali hening. Tanah yang dulu ia pijak, kini memeluknya.

Kepulangan itu akhirnya lengkap. Bukan sekadar dari Makassar ke Ternate, tapi dari kehidupan menuju keabadian.

Ia pergi tanpa membawa apa-apa. Namun meninggalkan jejak yang tak mudah hilang.

Dan hari itu, Ternate tidak hanya menerima jenazah.

Ternate menerima kembali seorang anaknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Tutup