Dari Ake Gaale, Warga Ternate Rawat Air Lewat Ritual Ake Ma Sou
Senjakota- Langkah kaki warga terdengar menyusuri kawasan sumber mata air Ake Gaale, Kelurahan Sangaji, Kota Ternate Utara. Di tengah rimbun pepohonan, mereka berkumpul dalam satu tujuan yang sama, menjaga air yang selama ini menjadi denyut kehidupan kota.
Ritual Ake Ma Sou 2026 kembali digelar. Tradisi ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi cara masyarakat merawat hubungan dengan alam sekaligus menjaga kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu prosesi utama, Si Ruru Juanga, berlangsung dengan khidmat. Ritual ini dimaknai sebagai simbol menolak mara bahaya serta ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas sumber daya air yang terus mengalir dan dimanfaatkan hingga saat ini.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Ternate Nasri Abubakar, Direktur Perumda Ake Gaale Kota Ternate Firman Mudaffar Sjah, Camat Ternate Utara, serta tokoh adat dan masyarakat setempat.
Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, menegaskan bahwa Ake Ma Sou merupakan tradisi yang harus terus dijaga. Menurutnya, kearifan lokal seperti ini memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan sumber mata air.
“Ritual ini sudah lama dilakukan masyarakat. Kearifan lokal yang diwariskan harus terus dijaga karena menjadi bagian dari upaya memperkuat kesadaran bersama dalam melestarikan sumber air,” ujarnya.
Tauhid menjelaskan, sekitar 60 persen kebutuhan air bersih Kota Ternate bergantung pada sumber mata air Ake Gaale. Karena itu, ia mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kelestariannya, termasuk tidak membuang sampah dan limbah di sekitar kawasan tersebut.
“Kami juga berharap Perumda Ake Gaale terus bekerja sama dengan masyarakat untuk menghidupkan tradisi ini sebagai bentuk kepedulian terhadap sumber air,” katanya.
Di sisi lain, kesadaran untuk menjaga Ake Gaale juga datang dari komunitas. Ketua Komunitas Save Ake Gaale, Alwan M. Arif, menyebut masyarakat hingga kini tetap konsisten melakukan upaya konservasi karena kawasan tersebut merupakan sumber utama air bersih bagi Kota Ternate.
Namun, ia mengingatkan ancaman terhadap Ake Gaale masih ada, mulai dari intrusi air laut hingga potensi pencemaran yang dapat mengganggu kualitas air.
“Agenda besar kami adalah mewujudkan kawasan Ake Gaale sebagai ruang terbuka hijau, sehingga upaya perlindungan dan perbaikan kawasan sumber air bisa dilakukan lebih terarah,” ungkapnya.
Alwan berharap ritual Ake Ma Sou dapat menjadi agenda tahunan yang terintegrasi dalam program Dinas Kebudayaan sebagai bagian dari pelestarian kearifan lokal.
Sementara itu, Direktur Perumda Ake Gaale, Firman Mudaffar Sjah, menekankan bahwa menjaga sumber air tidak cukup hanya melalui ritual, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.
“Air ini harus kita jaga bersama. Selain berdoa, masyarakat juga perlu terlibat aktif menjaga kebersihan dan lingkungan agar sumber air tetap mengalir,” ujarnya.
Ia memastikan jika ritual ini akan menjadi ritual tahunan. “Ini akan menjadi agenda tahunan,” tegasnya.
Di balik prosesi yang sakral, Ake Ma Sou kembali mengingatkan bahwa air bukan hanya soal kebutuhan, tetapi juga warisan yang harus dijaga bersama untuk generasi mendatang.






Tinggalkan Balasan